Makalah Jual Beli dan Waqaf (Karakter Keislaman) by Dite and Fita

MAKALAH

KARAKTER KEISLAMAN

JUAL BELI DAN WAQAF

 

 

DISUSUN OLEH:

Dite Nursyamsi Mahmutami      41182003160004

Nur Fitia Sari                                41182003160031

 

 

 

PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS

FAKULTAS KOMUNIKASI, SASTRA DAN BAHASA

UNIVERSITAS ISLAM “45” (UNISMA) BEKASI

2016

KATA PENGANTAR

 

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah swt yang telah memberikan kita rahmat, hidayah serta inayah-Nya. Solawat serta salam tak lupa kita panjatkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, keluarga serta para sahabat, yang mana telah membawa kita dari zaman kegelapan hingga zaman terang benderang seperti sekarang ini.

Makalah yang berjudul “Jual Beli dan Waqaf”ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Karakter Keislaman. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami mohon untuk kritik dan sarannya sebagai bahan koreksi bagi kami.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat sebagai bahan penambah ilmu pengetahuan, inspirasi serta informasi bagi banyak pihak.

Bekasi, Mei 2017

 

Penyusun

 

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. i

DAFTAR ISI ii

BAB I 1

PENDAHULUAN.. 1

1.1.       Latar Belakang. 1

1.2.       Rumusan Masalah. 2

1.2.1.        Jual Beli 2

1.2.2.        Waqaf. 2

BAB II 3

JUAL BELI 3

2.1.       Pengertian Jual Beli 3

2.2.       Hukum Jual Beli 3

2.3.       Hikmah Jual Beli 3

2.4.       Rukun dan Syarat-syarat Jual Beli 3

2.4.1.        Akad. 3

2.4.2.        Aqid. 5

2.4.3.        Ma’kud ‘alaih. 6

2.5.       Jenis-Jenis Jual Beli 8

2.5.1.        Jual Beli Ditinjau dari Pertukarannya. 8

2.5.2.        Jual Beli Ditinjau dari Hukumnya. 9

2.5.3.        Jual Beli Ditinjau dari Objeknya (Benda). 12

2.5.4.        Jual Beli Ditinjau dari Subjeknya (Pelaku). 12

2.5.5.        Jual beli ditinjau dari harganya. 13

2.5.6.        Jual beli ditinjau dari pembayarannya. 13

2.6.       Jual Beli yang Tidak Dibolehkan. 14

2.6.1.        Terlarang Sebab Ahliah (Ahli Akad). 14

2.6.2.        Terlarang Sebab Shighat 16

2.6.3.        Terlarang Sebab Ma’qud Alaih (Barang Jualan). 17

Ada beberapa yang diperselisihkan oleh ulama yaitu: 17

2.6.4.        Terlarang Sebab Syara’. 18

BAB III 21

WAQAF. 21

3.1.       Pengertian Waqaf. 21

3.2.       Dasar Hukum Waqaf. 22

3.3.       Persyaratan Waqaf. 22

3.4.       Macam-Macam Waqaf. 23

3.5.       Hikmah Berwaqaf. 24

BAB IV.. 26

PENUTUP. 26

4.1.       Kesimpulan. 26

4.2.       Kritik Saran. 27

Daftar Pustaka. 28

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Agama Islam mengatur setiap segi kehidupan umatnya. Mengatur hubungan dengan sesamanya yang biasa disebut dengan muamalah mu’annas. Hubungan dengan sesama inilah yang melahirkan suatu cabang ilmu dalam Islam yang dikenal dengan Fiqih muamalah. Aspek kajiannya adalah sesuatu yang berhubungan dengan muamalah atau hubungan antara umat satu dengan umat yang lainnya. Mulai dari jual beli, sewa menyewa, hutang piutang dan lain-lain.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari, setiap muslim pasti melaksanakan suatu transaksi yang biasa disebut dengan jual beli. Si penjual menjual barangnya, dan si pembeli membelinya dengan menukarkan barang itu dengan sejumlah uang yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Lalu agama islam juga mengatur tentang waqaf.  Waqaf adalah mengalihkan hak milik pribadi menjadi hak milik umum dengan tujuan untuk beribadah. Waqaf pun mempunyai banyak hal yang mungkin tidak diketahui. Sangat disayangkan jika umat islam tidak tahu dan mengerti waqaf. D

Didalam makalah ini kami akan membahas dua hal yaitu jual beli dan waqaf. Kami akan membahas dengan lebih rinci hukum-hukum dan macam-macam jenis yang ada dalam kegiatan jual beli serta waqaf. Tidak lupa pula pengertian dan hikmah yang terkandung di keduanya.

 

 

 

 

 

 

  • Rumusan Masalah
    • Jual Beli
  1. Pengertian Jual Beli
  2. Hukum Jual Beli
  3. Hikmah Jual Beli
  4. Rukun dan Syarat-syarat Jual Beli
  5. Jenis-jenis Jual Beli
  6. Jual Beli yang Tidak Dibolehkan
    • Waqaf
  7. Pengertian Waqaf
  8. Dasar Hukum Waqaf
  9. Persyaratan Waqaf
  10. Macam-Macam Waqaf
  11. Hikmah Berwaqaf

 

 

BAB II

JUAL BELI

  • Pengertian Jual Beli

Jual beli adalah kesepakatan tukar-menukar suatu benda yang mempunyai nilai dengan ketentuan yang telah disepakati untuk tujuan memiliki benda tersebut selamanya.

  • Hukum Jual Beli

Jual Beli disyariatkan dalam Al-Quran, sunnah perkataan dan perbuatan Rasulullah. Seperti dalam firman Allah:

“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Q.S. Al Baqarah: 275)

  • Hikmah Jual Beli

Dengan adanya jual beli, seorang muslim bisa mendapatkan sesuatu yang dibutuhkannya tanpa kesulitan yang berarti. Lalu dengan adanya jual beli, orang yang membutuhkan suatu barang yang dimiliki oleh seseorang, sedangkan orang tersebut tidak mungkin memberikannya tanpa ada gantinya, maka tercapailah hajat dan keinginan keduanya. Jika jual beli hukumnya haram atau dilarang, bisa mendorong meningginya tindak perampasan, perampokan, pencurian, penipuan, dan pertumpahan darah. Dengan adanya jual beli dapat memadamkan gejolak kejahatan yang timbul di masyarakat.

  • Rukun dan Syarat-syarat Jual Beli
    • Akad

Bahasa akad, yaitu ijab (penyerahan) dan qobul (penerimaan) dalam transaksi jual beli dengan pernyataan atau perbuatan (memberi barang yang telah dijual kepada pembeli). Seperti pernyataan penjual “Saya jual barang ini dengan harga sekian.” Pembeli menjawab “Baiklah saya beli.” Dengan demikian berarti jual beli berlangsung dengan rasa suka sama suka. Sabda Rasulullah saw “Sesungguhnya jual-beli itu hanya sah jika suka sama suka.” (H.R. Ibnu Hiban)

Syarat sah akad adalah:

  1. Berhadap-hadapan

Pembeli dan penjual melakukan transaksi harus sesuai dengan orang yang dituju dan ditujukan untuk seluruh badan yang akad yang berarti tidak sah menjual unt

 

 

uk salah satu anggota badan. Qobul (Pembeli) harus orang yang diajak bertransaksi ole hijab (pembeli), kecuali jika diwakilkan.

  1. Harus menyebut nama barang dan harga

Ketika mengucapkan ijab qobul harus disertai niat (maksud). Pengucapannya juga harus jelas dan sempurna. Bila yang sedang bertransaksi itu gila sebelum mengucapkan, maka jual beli tersebut batal.

  1. Ijab qobul tidak terpisah

Antara ijab dan qobul tidak diselingi waktu yang terlalu lama yang bisa menggambarkan penolakan dari salah satu pihak.

  1. Antara ijab qobul tidak terpisah dengan pernyataan lain

Tidak berubahnya lafal ijab. Sebagai contoh “saya menjual dengan 10 dirham”, kemudian berkata lagi, “Saya menjualnya dengan 20 dirham”, padahal barang yang dijual masih sama.

  1. Bersesuaian antara ijab dan qobul secara sempurna

Pengucapan antara penjual dan pembeli harus menyebutkan nama barang dan harga jualnya, ijab qobul tidak terlalu lama dan tidak terpisah dengan pernyataan lain.

  1. Tidak dikaitkan dengan sesuatu yang tidak berhubungan dengan akad

Pada saat ijab qobul tidak ada perkataan yang tidak ada sangkut pautnya dengan ucapan ijab qobul.

  1. Tidak dikaitkan dengan waktu

Pengucapan ijab qobul boleh dilakukan kapan saja kecuali pada saat azan berlangsung.

  • Aqid

Aqid adalah orang yang berakad. Dalam hal ini, aqid menyangkut penjual dan pembeli. Penjual harus memiliki barang yang dijualnya atau mendapat izin untuk menjualnya. Syarat sah aqid agar kegiatan jual beli sah adalah:

  1. Baligh (dewasa)

Ini berarti anak kecil dianggap tidak sah dalam jual beli.

  1. Berakal Sehat

Aqid menyadari dan mampu memelihara diri dan membelanjakan hartanya dengan baik, merdeka dan mukalaf. Orang gila atau bodoh tidak sah jual belinya.

  1. Atas kehendak sendiri (Tidak dipaksa)

Kerelaan dari dua belah pihak, penjual dan pembeli. Jika terdapat unsur paksaan atau dengan ketidakrelaan dari salah satu pihak maka tidak sah jual belinya, kecuali dipaksa dengan alasan yang dibenarkan.  Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya jual beli itu dengan kerelaan.” (Diriwayatkan Ibnu Majah dengan sanad hasan)

  1. Islam

Dianggap tidak sah orang kafir yang membeli kitab Al Quran dan kitab-kitab yang berkaitan dengan dinul islam lainnya. Firman Allah SWT “Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan bagi orang kafir untuk menghina orang mukmin.” (Q.S. An Nisa’: 141)

  1. Pembeli bukan musuh

Umat islam dilarang untuk menjual barang khususnya senjata kepada musuh yang akan digunakan untuk memerangi dan menghancurkan kaum muslimin.

  • Ma’kud ‘alaih

Ma’kud ‘alaih adalah barang, benda atau objek yang dijualbelikan.

  1. Suci (halal dan tayyib)

Benda yang dijualbelikan harus suci, halal dan bukan syubhat (masih diragukan).

  1. Bermanfaat menurut syara’

Dilarang menjual barang yang tidak bermanfaat karena dengan membeli barang yang tidak bermanfaat sama dengan boros. Firman Allah SWT “Sesungguhnya pemboros itu saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S Al Isra: 27)

  1. Tidak ditaklitkan

Maksudnya adalah benda yang dijualbelikan tidak dikaitkan dengan hal lain.

  1. Tidak dibatasi waktunya

Jual beli dimaksudkan untuk memiliki benda tersebut selamanya dan merupakan pemilikan secara penuh.

  1. Dapat diserahkan cepat atau lambat

Dalam kegiatan jual beli barang yang akan ditransaksikan sudah pasti ada. Tidak boleh menjual barang yang hilang dan tidak ada kejelasan barang yang akan di jual.

  1. Barang-barang yang sulit diperoleh karena samar

Barang yang dijualbelikan tidak boleh samar dan harus ada kejelasannya. Sebagai contoh membeli anak kambing yang masih dalam kandungan induknya.

  1. Milik sendiri

Barang yang diperjualbelikan adalah milik pribadi si penjual atau penjual mendapatkan izin untuk menjualnya pada saat akad transaksi

Sabda Rasulullah saw, “Tak sah jual beli melainkan atas barang yang dimiliki.” (H.R. Abu Daud dan Tirmizi)

  1. Diketahui (dilihat)

Barang yang diperjualbelikan dapat diketahui kedua belah pihak dengan cara melihat atau mengetahui sifat dan cirinya. Tidak sah jual beli yang terdapat keraguan dalam satu pihak.

  1. Ada nilai tukar pengganti barang

Barang yang dijualbelikan harus mempunyai nilai tukar dan memenuhi 3 syarat yaitu: menyimpan nilai (store of value) yang bisa diartikan barang tersebut memiliki harga, bisa menilai atau menghargakan suatu barang (unit of account) yang bisa diartikan barang yang dijualbelikan sesuai harganya, dan bisa dijadikan alat tukar (medium of exchange) yang dapat diartikan barang tersebut berharga seperti uang, emas, atau barang berharga lainnya.

  • Jenis-Jenis Jual Beli
    • Jual Beli Ditinjau dari Pertukarannya
  1. Jual beli salam (pesanan)

As-salam atau salaf adalah jual beli dimana harga yang dimuka sedangkn barang dengan kriteria tertentu akan diserahkan pada waktu tertentu. Sebagai tanggungan yang tertunda dengan harga yang telah di bayarkan.

Dasar hukum Q.S. Al-Baqoroh: 282

“hai orang-orang beriman, apabila kamu bermua’malah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya…”

  1. Jual beli muqayyadah (barter)

Muqoyyadah adalah jual beli dimana barang ditukar dengan barang, yang harus diperhatikan aspek-aspek terkait dengan hukum islam dan tidak munculkan aspek ribawi (menimbulkan kerugian antara kedua belah pihak). Contohnya menukar beras dengan jagung.

  1. Jual beli muthlaq

Jual beli muthlaq adalah jual beli barang dengan sesuatu yang telah disepakati sebagai alat tukar.

  1. Jual beli alat tukar dengan alat tukar

Bai’ al-sharf adalah jual beli mata uang dengan mata uang yang sama atau berbeda jenis. Sebagaimana dijelaskan Nabi Muhammad saw:

“Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, garam dijual dengnan garam (takaran atau timbangannya) harus sama dan kontan. Barang siapa yang menambah atau meminta tambahan maka ia telah berbuat riba, pemberi dan penerima dalam hal ini sama.” (H.R. Muslim)

  • Jual Beli Ditinjau dari Hukumnya
  1. Jual beli sah (halal)

Jual beli sah adalah jual beli yang sesuai dengan ketentuan syariat. Sesuatu yang dijualbelikan akan menjadi milik orang yang melakukan akad.

  1. Jual beli fasid (rusak)

Jual beli ini sesuai dengan ketentuan syara’ (syarat dan rukun) tetapi tidak sesuai dengan syara’ sifatnya, seperti jual beli yang meragukan dan menimbulkan pertentangan. Jual beli yang tidak memenuhi ketentuan syara’ harus ditolak dan tidak dianggap baik dalam hal muamalat maupun ibadah. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berbuat suatu amal yang tidak kami perintahkan maka tertolak. Begitu pula dengan barang siapa yang memasukkan sesuatu perbuatan kepada agama kita, maka tertolak.” (H.R. Muslim).

Namun menurut ulama Hanafiyah, dalam masalah jual beli terkadang ada suatu manfaat yang tidak ada ketentuannya dalam syara’ atau ada kekurangan dalam ketentuan syariat, maka jual beli ini rusak bukan batal. Dengan kata lain ada akad yang batal dan ada akad yang rusak.

  1. Jual beli batal (haram)

Jual beli batal adalah jual beli yang dilarang dalam syariat islam (haram) dan batal hukumnya. Jual beli haram ini meliputi:

  • Jual beli yang menjerumuskan ke dalam riba

Riba adalah akad yang terjadi pada pertukaran benda sejenis tanpa diketahui sama atau tidak timbangan/takarannya. Jadi riba ada tambahan uang dalam sesuatu yang khusus. Hukum riba adalah haram. Firman Allah SWT,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda.” (Q.S. Ali Imran: 130)

Sabda Rasulullah saw,

“Allah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, dua saksinya, dan penulisnya (sekretarisnya).” (Disahihkan oleh At-Tirmizi)

  • Jual beli dengan cara ‘inah

‘Inah adalah menjual barang lalu menunda pembayarannya atau dengan pembayaran bertempo, kemudian membeli kembali barang tersebut secara tunai dengan harga yang lebih rendah. Hukum ‘inah haram dan batil karena mengandung unsur riba. Namun, jika membeli barang tesebut setelah lunas pembayarannya, atau sifatnya berubah (cacat), atau membeli dari pembeli lain maka hukumnya boleh.

  • Jual beli dengan cara tawarruq

Tawarruq diartikan sebagai kegiatan memperbanyak uang. Jadi kegiatan jual belinya dimaksudkan untuk memperkaya diri bukan untuk membantu orang lain dan mendapatkan manfaat dari barang yang dijualbelikan.

  • Jual beli sistem salam (ijon)

Jual beli yang menjual buah-buahan yang masih hijau (masih ada dipohon). Contohnya membeli buah manga yang masih ada dipohonnya (belum dipetik).

  • Jual beli dengan menggabungkan dua akad dalam satu transaksi

Seorang muslim tidak boleh melangsungkan dua jual beli dalam satu akad, namun ia harus melangsungkannya sendiri-sendiri. Ini dikarenakan di dalamnya terdapat ketidakjelasan yang membuat orang lain tersakiti atau memakan hartanya dengan tidak benar.

  • Jual beli secara paksa

Jual beli ini ada 2 bentuk yaitu adanya paksaan ketika akad dan karena dililit utang atau beban berat sehingga menjual apapun dengan harga murah.

  • Jual beli sesuatu yang tidak dimiliki dan menjual sesuatu yang dibeli dan belum diterima

Hal ini dapat menimbulkan permusuhan dan kerusakan. Terutama bila diketahui bahwa pembeli akan mendapatkan untung lebih dari barang yang dijual.

Sabda Rasulullah saw,

“Jika engkau membeli sesuatu maka engkau jangan menjualnya hingga engkau menerimanya.” (H.R. Ahmad dan Ath-Thabrani)

  • Jual beli yang dapat menjauhkan dari ibadah

Dilarang melakukan jual beli yang melalaikan kita dalam beribadah kepada Allah SWT.

  • Menjual barang yang diharamkan

Seperti minuman keras, babi, patung, dan sarana yang membawa kepada hal yang diharamkan maka transaksinya haram. Karena barang sudah haram, maka haram juga transaksinya.

  • Jual beli najasy

Jual beli najasy adalah menawar suaru barang dengan harga lebih tinggi namun tidak membelinya, dimaksudkan agar pembeli lain tertarik. Memberi tambahan harga kepada orang yang tidak mau membelinya maka hukumnya haram. Ini karena dapat menipu dan mengecoh pembeli lainnya.

  • Melakukan penjualan diatas penjualan orang lain

Dilarang mengambil pembeli yang sedang melakukan transaksi yang sedang melakukan pemilihan barang (khiyar) dan tawar menawar dari pedangang lain.

  • Jual beli secara gharar

Gharar adalah penipuan. Gharar bisa dalam bentuk jika penjual mengetahui bahwa ada cacat dalam barang yang ia jual maka ia harus memberitahukan cacat itu kepada pembeli, jika tidak memberitahukannya maka masuk kedalam jual beli secara gharar.

  • Jual Beli Ditinjau dari Objeknya (Benda)
  1. Bendanya kelihatan

Maksudnya waktu pelaksaan jual beli, barang yang dijualbelikan ada dan kelihatan. Contohnya membeli makanan di toko makanan.

  1. Sifat-sifat bendanya disebutkan dalam janji

Ketika melakukan akad, disebutkan sifat ciri barang termasuk takaran, timbangan dan ukuran.

  1. Bendanya tidak ada

Dalam kegiatan jual beli, benda harus jelas dan tidak menimbulkan kerugian disalah satu pihak kecuali dengan syarat tertentu yaitu kerelaan kedua belah pihak, bisa menjaga amanah, transparan, sanggup menyelesaikan barang pada waktu yang telah ditentukan.

  • Jual Beli Ditinjau dari Subjeknya (Pelaku)
  1. Dengan lisan

Jual beli dilakukan secara langsung (berhadapan) akadnyaoleh penjual dan pembeli.

  1. Dengan Perantara

Jual beli dilakukan dengan perantara (penjual dan pembeli tidak berhadapan dalam satu tempat akad) yang berupa perantara, wakalah (utusan), atau tulisan (surat menyurat). Kegiatan jual beli dengan perantara ini sama halnya dengan ucapan, maka jual belinya sah.

  • Jual beli ditinjau dari harganya
  1. Al-Murabahah

Jual beli yang menguntungkan. Syaratnya penjual harus mempertimbangkan kemampuan daya beli masyarakat, aspek komersial dan sosial ta’aun (saling menolong). Contohnya menjual sepasang sepatu yang harganya 45.000 menjadi 50.000 dengan demikian penjual mendapat keuntungan 5.000.

  1. At-Tauliyah

Jual beli yang tidak menguntungkan. At-Tauliyah adalah menjual suatu barang dengan harga pokok. Contohnya seseorang membeli TV harga 3.000.000 karena kebutuhan yang mendesak ia menjualnya dengan harga yang sama.

  1. Al-Khasarah

Jual beli ini kebalikan dari jual beli murabahah yaitu menjual harga yang lebih murah dengan harga pokoknya (rugi). Contohnya seseorang menjual HP baru dibelinya harga 500.000, namun karena kebutuhan mendesak maka ia jual hp tersebut dengan harga 400.000.

  1. Al-Musawah

Yaitu menjual tidak memberitahu harga asli barang namun pembeli rela.

  • Jual beli ditinjau dari pembayarannya
  1. Al-Murabahah

Adalah jual beli dengan pembayaran dimuka. Penjual harus memberi tahu harga barang yang dijualnya dan menentukan harga jual dengan kesepakatan kedua belah pihak dan Pembayarannya dilakukan dengan cara yang disepakati serta dilakukan pada saat barang yang akan dibeli sudah ada.

  1. Bai’ as-Salam

Adalah jual beli dengan pembayaran tangguh. Pembayaran sistem salam harus dilakukan diawal transaksi dan tunai (kontan). Barang yang dijualbelikan tidak harus ada di tempat akad.

  1. Bai’ al-Istishna

Adalah jual beli berdasarkan pesanan. Pembayarannya tidak harus secara kontan dan tidak dibatasi oleh waktu yang berarti pembayaran dapat dilakukan dilakukan di awal, tengah atau akhir sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.

  • Jual Beli yang Tidak Dibolehkan
    • Terlarang Sebab Ahliah (Ahli Akad)
  1. Jual beli orang gila

Jual beli dengan orang gila atau sejenisnya (mabuk) tidak sah dan dinyatakan batal. Karena syarat sah jual beli adalah orang yang berakal sehat. Ulama fiqih juga sepakat tentang hal ini.

  1. Jual beli anak kecil

Syarat sah jual beli salah satunya adalah orang yang berakad harus baligh. Ini berarti anak kecil yang melakukan jual beli hukumnya tidak sah kecuali dalam perkara ringan atau sepele. Pendapat tersebut sesuai kesepakatan para ulama serta ulama Syafi’iyah.

Pendapat lain dari Ulama Malikiyah, Hanafiyah dan Hanabilah jual beli anak kecil dipandang sah jika diizinkan walinya. Alasan mereka adalah untuk melatih kedewasaan juga pengalaman bagi anak tersebut.

  1. Jual beli orang buta

Menurut ulama Syafi’yah jual beli orang buta tidak sah karena orang buta tidak bisa mengetahui baik buruknya barang yang dijual. Namun pendapat ulama jumhur jual beli ini sah apabila penjual menerangkan sifat-sifat barang yang dijualnya.

  1. Jual beli terpaksa

Pada dasarnya kegiatan jual beli harus ada kerelaan dari kedua belah pihak, maka jual beli yang terpaksa dari satu maupun kedua belah pihak ketika akadnya maka tidak sah sesuai pendapat ulama Syafi’iyah dan Hanabilah. Menurut ulama Hanafiyah harus ditangguhkan sampai ada kerelaan dari aqidnya. Ulama Malikiyah berpendapat tidak lazi baginya ada khiyar.

  1. Jual beli fudhul

Jual beli fudhul adalah jual beli tanpa izin pemiliknya. Seperti yang dibahas sebelumnya, benda yang dijualbelikan harus milik sendiri. Sesuai pendapat ulama Syafi’iyah dan Hanabilah, jual beli fudhul tidak sah. Pendapat lain oleh ulama Hanafiyah dan Malikiyah, jual belinya akan di tunda sampai pemilik benda tersebut memberikan izin.

  1. Jual beli orang yang terhalang

Terhalang yang dimaksud adalah orang bodoh, bangkrut dan sakit. Jual beli orang bodoh menurut ulama Syafi’iyah tidak sah karena ucapannya dipandang tidak dapat dipegang, sedangkan ulama Malikiyah dan Hanafiyah dan pendapat paling sahih dari kalangan Hanabiyah jual belinya harus ditunda. Begitu pula jual beli orang yang sedang bangkrut harus ditunda (Malikiyah dan Hanafiyah) dan tidak sah menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah.

Untuk orang yang sedang sakit yang mendekati kematian menurut jumhur selain Malikiyah hanya dibolehkan sepertiganya, bila lebih maka harus ditunda hingga ada izin dari ahli warisnya. Menurut ulama Malikiyah sepertiga hartanya hanya berupa harta yang tidak bergerak.

  1. Jual beli malja’

Jual beli malja’ adalah jual beli orang yang sedang dalam bahaya yakni untuk menghindar dari perbuatan zalim. Menurut ulama Hanafiyah jual beli ini fasid (rusak) dan menurut ulama Hanabilah jual beli malja’ batal.

  • Terlarang Sebab Shighat

Shighat adalah ketidakjelasaan akad pada saat jual beli, ulama fiqih sepakat atas sahnya jual beli atas keridhoan kedua belah pihak dan kesesuain akad yang ada didalam islam.

Adapun ulama syafiiyah( Muhammad asy-syarbini, mughni al-muhtaj, juz 2 hal 3) kegiatan jual beli harus disertai dengan ijab qabul yang shighat lafaznya. Kecuali orang-orang yang uzur ia diperbolehkan dengan isyarat.

Menurut Ibn Suraij ijab qobul, berada di suatru tempat tidak boleh terpisah. Jual beli yang di pandang tidak sah dan masih di perdebatkan oleh ulama-ulama yaitu:

  1. Jual beli mu’athah

Jual beli mu’athah adalah mengambil dan memberikan barang tanpa adanya ijab dan qobul. Menurut ulam Hanafiyah sistem jual beli sistem ini tidak sah, menurut ulama syafiiyah jual beli ini sah sperti Imam Nawawi.

  1. Jual beli memalui surat melalui utusan

Jual beli ini sah, jika tempat berakad adalah sampai surat atau utusan aqid pertama kepada aqid kedua, selama qobul berpindah atau melebihi tempat akad.

  1. Jual beli dengan isyarat atau tulisan

Jual beli dengan isyarat atau tulisan diperbolehkan hanya untyuk orang yang uzur karena sama ucapan. Apabila isyarat atau tulisan tidak dapat dimengerti oleh salah satu pihak maka akad jual beli tidak sah.

  1. Jual beli barang yang tidak ada ditempat akad

Jual beli barang ini tidak sah karena, syarat dari jaul beli yaitru barang ada di tempat akad.

  1. Jual beli yang tidak bersesuaian antara ijab dan qobul

Jual beli ini tidak sah kesepkatan ulama, tetapi ada dua pendapat yang berbeda yaitu menurut ulam Hanafiyah jual beli ini di bolehkan, menurut ulama Syafiiyah jual beli ini tidak sah.

  1. Jual beli munjiz

Jual beli ini tidak sah karena pembeli dikaitkan dengan syarat-syarat dari penjual. Menurut Imanm Hanafiyah jual beli ini dianggap fasid dan batal menurut jumhul ulama.

  • Terlarang Sebab Ma’qud Alaih (Barang Jualan)

Ma’qud alaih adalah harta atau mata uang yang dijadikan alat tukar oleh orang yang akad. Ulama fiqih bersepakat jual beli menjadi sah jika ma’qud alaih berbentuk barang yang tetap, bermanfaat, berbentuk, dapat diserahkan, dilihat oleh orang-orang yang akad. Tidak bersangkutan dengan milik orang lain dan keluar dari syara’.

Ada beberapa yang diperselisihkan oleh ulama yaitu:

  1. Jual beli benda yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada

Jual beli barang yang tidak ada ataupun dikhawatirkan tidak ada maka hukumnya tidak sah, menurut jumhur ulama.

  1. Jual beli barang yang tidak dapat diserahkan

Jual beli barang yang belum diserahkan hukumnya tidak sah berdasarkan ketetapan syara, contoh burung yang masi diudara.

  1. Jual beli gharar

Jual beli v=barang yang belum ada kejelasan (samar). Rasulullah saw bersabda,’janganlah kamu membeli ikan dalam air karena jual beli seperti itu termasuk kharar (menipu)’. HR.Ahmad

  1. Jual belil barang yang najis dan yang terkena najis

Ulama sepakat barang najis ataupun terkena najis maka tidak sah dalam melakukan jual beli. Tetapi menurut ulama hanfiah boleh asalkan barang yang terkena najis tidak untuk dimakan. Sedangkan menurut ulama malikiah boleh asalkan dibersihkan terlebih dahulu

  1. Jual beli air

Jual beli air tidak sah menurut ulama jahiriah. Selain air mutlak maka jual beli itu mubah (diperbolehkan)

  1. Jual beli barang yang tidak jelasa (majhul)

Jual beli seperti ini adalah pasad menurut ulama hanfiah dan menurut jumhur batal karena akan terjadi pertentengan antara penjual dan pembeli

  1. Jual beli barang yang tidak ada di tempat akad (ghaib)

Menurut ulama syafiah dan hambali jual beli seperti ini todak sah sedangka nmenurut ulama malikiah dan hanafiah diperbolehkan ada bebrapa syarat yaitu : harus jauh sekali tempatnya, tidak boleh deket sekali tempatya, bukan pemeiliknya harus ikut memberikan gambran, harus meringkas sifat-sofat barang semuanya penjual tidak boleh memberikan syarat.

  1. Jual beli sesuatu sebelum dipegang

Ada beberapa pendapat dari empat ulama yaitu ulama hanafiah sangat melarangnya, ulama syafiiah melarangnya sangat mutlak, ulama malikiah melarang atasa makanan, ulama hambaliah melarang atas makanan yang diukur.

  1.     jual beli buah-buahan/tumbuhan

jual beli ini boleh tetepi buah buahan harus matang berdasarkan ulama hanafiah. Tetapi jika buah tidak ada ditempat maka akad batal karena buah harus sudah matang dan ada di tempat.

  • Terlarang Sebab Syara’
  1. Jual beli riba

Jual beli riba sesuai yang telah dibahas hukumnya haram. Riba nasiah dan riba fadhl menurut ulama Hanafiyah menjadi fasid dan ulama jumhur lainnya berpendapat jual beli menjadi batal. Riba nasiah adalah tambahan yang diambil pedangang sebagai ganti penundaan pembayaran utang. Riba fadhl adalah jual beli mata uang dengan mata uang atau makanan dengan makanan disertai adanya tambahan.

  1. Jual beli dengan uang dari barang yang diharamkan

Menurut ulama hanafiah termasuk fasid (rusak), sedangkanmenurut jumhur ulama batal sebaba ada nas yang jelas dari hadis bukhori dan muslim bahwa rasulullah saw mengharamkan jual beli khamar , bangkai, anjing dan patung.

  1. Jual beli barang dari hasil pencegatan barang

Yaitu barang yang dijual adalah hasil pencegatan pedagang yang sedang dalam perjalanan ke pasar. Ulama Malikiyah berpendapat jual belinya fasid. Pendapat ulama Hanafiyah makruh tahrim dan pendapat ulama Syafi’iyah dann Hanabilah pembeli boleh melakukan khiyar.

  1. Jual beli waktu azan jumat

Bagi laki-laki yang wajib hukumnya melaksanakan solat jumat, maka tidaklah boleh baginya melaksanakan jual beli. Hukumnya haram dan dianggap tidak sah, begitu pula dengan semua jenis transaksi lainnya.

  1. Jual beli anggur untuk dijadikan khamr

Pada dasarnya khamr itu haram. Maka menurut ulama Hanifiyah dan Syafi’iyah zhahirnya sahih tetapi makruh sedangkan menurut ulama Malikiyah dan Hanabilah jual beli tersebut batal.

  1. Jual beli induk tanpa anaknya yang masih kecil

Jual beli ini dilarang sampai anaknya sudah besar dan dewasa.

  1. Jual beli barang yang sedang dibeli oleh orang lain

Dilarang membeli barang kepada pedagang yang sudah dibeli oleh orang lain tetapi mereka masih dalam khiyar. Pedagangnpun tidak boleh membatalkan transaksi tersebut walaupun pembeli lain ingin membelinya dengan harga yang lebih tinggi.

  1. Jual beli memakai syarat

Jual beli dengan memakai syarat hukumnya dilarang terutama jika mengandung unsur penipuan seperti “Pakaian manapun yang kamu lempar kepada saya, maka saya harus membelinya dengan harga 10.000”

Tetapi jual beli ini dibolehkan dan menjadi sah bila syarat tersebut baik dan bermanfaat, seperti “Saya akan membeli pakaian ini jika dijahit terlebih dahulu.” Namun ulama Hanabilah tidak membolehkannya jika hanya bermanfaat bagi salah satu akad.

 

 

BAB III

WAQAF

Waqaf termasuk perbuatan baik yang pahalanya akan terus mengalir walaupun orang yang berwaqaf meninggal. Waqaf pertama kali dilakukan oleh Umar bin Khatab ra. atas nasihat Nabi Muhammad saw. Sesungguhnya Umar telah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Ia bertanya kepada Rasulullah saw. “Apakah perintahmu kepadaku yang berhubungan dengan tanah yang saya dapatkan ini?” Rasulullah saw menjawab, “Jika engkau suka, tahanlah tanah itu dan sedekahkan manfaatnya.” Dengan nasihat tersebut lalu Umar menyedekahkan manfaat tanahnya dengan perjanjian tidak akan menjual atau menyedekahkan atau mewariskan tanahnya itu,” (H.R. Bukhari dan Muslim)

    • Pengertian Waqaf

Begitu banyak pengertian waqaf menurut Bahasa, tetapi waqaf lebih sering diartikan dengan kata radiah (terkembalikan) dan ada gabungan kata ahabasa (al-habs) dengan al-ma (harta) baerarti waqaf (ahbasa al-mal).Ada beberapa riwayat yang menerangkan kata al-habs, yaitu:

Pertama, dikisahkan Umar bin khatab datang kepada Rosullah SAW, minta pentunjuk pemanfaatan tanah miliknya di khaibar, Nabi SAW bersabda “Bila engkau menghendaki, tahanlah pokoknya dan sedekahkanlah hasilnya (manfaat)” diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Ibn’umar.

Kedua, Nbai Muhammad SAW bersabda “harta yang sudah berkedudukan sebagai tirkah (harta pusaka) tidak lagi bermasuk waqaf” hadis diriwayatkan Ibn Abbas.

Keragaman nomenklatur waqaf terjadi karena tidak ada kata waqaf didalam Al-quran dan hadist. Menurut wahabh Zuhaily, waqaf adalah menahan harta (benda) dan menyadakan manfaatnya untuk jalan kebaikan.

Kesimpulan dari 4 Imam besar waqaf adalah menyerahkan harta benda seseorang yang telah wafat untuk di manfaatkan selamanya atau jangka waktu lama dengan kepentingan untuk ibadah.

  • Dasar Hukum Waqaf

Waqaf adalah amalan yang disunahkan. Waqaf termasuk jenis sedekah yang paling utama dianjurkan Allah, bentuk taqorrub yang paling mulia dan bentuk kebaikan terluas dan paling banyak manfaatnya. Hukum waqaf yang sunnah ini, terdapat dalam dalil dan hadis, salah satunya:

“Bila manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu: 1. Sedekah jariyah, 2. Ilmu yang bermanfaat, atau 3. Anak soleh yang mendoakannya.” (H.R. Abu Hurairah)

  • Persyaratan Waqaf

Syarat-syarat waqaf, yaitu:

  1. Orang yang bewaqaf (al-waqif)

Orang yang berwaqaf harus memenuhi 4 syarat ini pertama, memiliki waqaf secara penuh harta. Kedua, ia mesti orang yang berakal. Ketiga, ia mestilah baligh (dewasa). Dan terakhir, ia mestilah orang yang mengerti dalam hukum (rasyid). Orang yang berwaqaf juga harus atas kehendak sendiri, maka jika dipaksa maka waqafnya tidak sah.

  1. Harta yang waqafkan (al-Mauquf)

Syarat harta yang diwaqafkan itu tidak sah dipindahmilikkan, kecuali ia harus memenuhi beberapa syarat ini yaitu barang yang diwaqafkan itu mesti barang berharga, mesti diketahui kadarnya, harta yang diwaqafkan itu pasti dimiliki oleh orang yang berwaqaf (wakif) sepenuhnya, harta itu mesti berdiri sendiri jadi tidak melekat kepada harta orang lain. Hartanya juga bersifat abadi dan dapat diambil manfaatnya tanpa berakibat kerusakan. Bila harta yang diwaqafkan sudah tidak dapat dinikmati lagi, maka barang tersebut boleh dijual dengan syarat uang hasil penjualan tersebut dibelikan gantinya.

  1. Orang yang menerima manfaat waqaf (al-Mauquf alaih)

Orang yang menerima waqaf ada dua macam antara lain: muayyan (tertentu) dan ghaira muayyan (tidak tertentu). Syarat-syarat untuk ghaira muayyan: orang yang menerima waqaf harus menjadikan waqaf itu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan waqaf hanya untuk kepentingan Islam. Jika barang yang diwaqafkan kepada kelompok tertentu haruslah jelas, dan bila bertujuan untuk membangun sarana umum (sekolah, masjid, pondok pesatren, dsb.) maka haruslah ada suatu badan hukum yang menerimanya.

  1. Shigat atau ikrar

Syarat-syarat yang berkaitan dengan isi ucapan (shigat) yaitu: ucapan harus menunjukkan kekalnya (ta’bid), ucapan tidak disangkutkan atau digantungkan kepada syarat tertentu, ucapan itu bersifat pasti, ucapan tidak diikuti syarat yang membatalkan. Tujuannya agar dapat diketahui dengan jelas sehingga menghindari persengketaan dikemudian hari.

Syarat waqaf juga harta yang diwaqafkan untuk selamanya (tidak dibatasi waktu, tunai (harus diserahkan saat shighat), dan jelas kepada siapa barang atau harta tersebut yang diwaqafkan.

  • Macam-Macam Waqaf
  1. Waqaf Ahli

Waqaf ahli disebut juga waqaf keluarga atau khusus, yaitu waqaf yang ditunjukkan kepada orang-orang tertentu. Contohnya seseorang mewaqafkan buku-buku yang ada di perpustakaan pribadinya untuk turunnya yang mampu menggunakannya. Waqaf ahli kembali lagi kepada tujuan waqaf pada umumnya yaitu dimanfaatkan untuk menegakkan agama Allah atau kepentingan sosial.

  1. Waqaf Khairi

Waqaf khairi atau waqaf umum adalah waqaf yang pahalanya terus menerus mengalir dan diperoleh waqif ia telah meninggal dunia. Waqaf ini sangat dianjurkan, agar kaum muslimin melakukannya karena dapat dijadikan modal untuk menegakkan agama Allah, menolong fakir miskin, anak yatim, orang terlantar, membangun sekolah atau sarana keagamaan dan kepentingan umum lainnya.

  1. Waqaf Uang

Muhammad Abdullah Al-Anshari, murid dari Zufar (sahabat Abu Hanifah) telah membolehkan waqaf dalam bentuk uang, sah tidaknya waqaf uang tergantung kebiasaan di suatu tempat. Ada juga ulama yang tidak membolehkan waqaf uang, Ibnu Qudamah dalam meriwayatkan pendapat dari sebagian besar ulama yang tidak membolehkan waqaf uang dirham. Sebagai lembaga atau institusi yang dapat mensejahterakan masyarakat, waqaf semakin maju tidak hanya berupa tanah, uang pun dapat diwaqafkan. Langkah ini sebagai sebuah alternatif untuk mensejahterakan masyarakat.

  • Hikmah Berwaqaf

Beberapa hikmah berwaqaf antara lain:

  1. Sebagai ibadah sosial

Waqaf adalah ibadah yang sangat berorientasi pada habl min al-nas, hubungan manusia dengan lingkungan atau biasa juga disebut kesalehan sosial. Dan tidak hanya habl min al-nas saja tetapi habl min allah rosullah SAW bersabda “Apabila anak adam meninggal maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orangn tuanya,”(HR. Muslim). Dilihat dari segi manfaatnya, waqaf sangat berjasa dalam membangunan berbagai saran untuk kepentingan umum demi kesejahteraan umat.

  1. Mengalirkan pahala tiada akhir

Keutamaan waqaf pahala tiada akhir dalma surat al-baqarah ayat 216. Allah berfirman,”perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir tumbuh serratus butir. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa-siapa saja yang di kehendaki, Dan Allah maha kuasa (karunia-Nya) lagi maha mengetahui”.

Jadi, waqaf adalah jenis ibadah yang istimewa dan utama bagi orang yang beriman dan beramal soleh. Hanya dengan memberikan harta untuk waqaf, manfaat dan hasilnya dapat terus berllipat tanpa henti.

  1. Untuk meningkatkan peradaban umat

Waqaf tidak hanya sekedar sebagai sarana ibadah, ia juga digunakan untuk pendidikan dan pengajaran, yang bisa disebut dengan halqolah, lingkaran studi. Slaah satu contoh waqaf untuk kepentingan ilmiah adalah Universitas al-Azhar di Mesir yang berdiri lebih dari 1000 tahun.

  1. Untuk meningkatkan kesejahteraan umat

Waqaf adalah untuk mensejahterakan kehidupan manusia secara umum. Waqaf ini berkembang menjadi waqaf untuk fasilitas umum, waqaf khusus untuk bantuan orang-orang fakir miskin, dan waqaf untuk pelestarian lingkungan hidup.


 

BAB IV

PENUTUP

    • Kesimpulan

Dari dua bahasan diatas, maka kesimpulan yang dapat kami ambil sebagai berikut:

  1. Jual beli adalah salah satu kegiatan muamalah yang hukumnya dibolehkan oleh Allah SWT. Jual beli yang dibolehkan ini juga agar manusia (muslimin) mendapatkan barang yang diinginkan atau dibutuhkannya yang dipunyai oleh orang lain dan orang tersebut tidak mau memberi tanpa ada gantinya.
  2. Rukun jual beli adalah Akad (ijab qobul), Aqid (orangnya), dan Ma’kud ‘alaih (barang yang dijualbelikan).
  3. Waqaf adalah perbuatan baik yang pahalanya terus mengalir walaupun orang yang berwaqaf meninggal dunia serta jenis sedekah yang paling dianjurkan oleh Allah, serta paling banyak manfaatnya. Waqaf selain barang juga bisa berupa uang, namun degan beberapa syarat yang harus diperhatikan.
  4. Syarat waqaf adalah Orang yang bewaqaf (al-waqif), Harta yang waqafkan (al-Mauquf), Orang yang menerima manfaat waqaf (al-Mauquf alaih), dan Shigat atau ikrar.
  5. Hikmah waqaf adalah sebagai ibadah sosial, mengalirkan pahala tiada akhir, untuk meningkatkan peradaban umat, dan untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

 

 

 

 

  • Kritik Saran

Demikianlah makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada kritik, saran, serta terdapat kesalahan mohon maaf dan maklum serta disampaikan kepada kami. Kami juga mempunyai beberapa saran, yaitu:

  1. Agar mahasiswa/i, pelajar, dan saudara muslim lainnya mempelajari jual beli dan waqaf untuk menambah ilmu serta membagikan ilmu tersebut ke orang lain dan khalayak ramai.
  2. Kaum muslimin perlu memperhatikan jual beli yang dilarang (haram dan batal) agar kita sebagai muslimin dapat menghindari dan tidak melakukan jual beli tersebut.
  3. Agar sebagai kaum muslimin kita dapat mengamalkan salah satu dari tiga amal jariyah yaitu dengan melakukan waqaf agar manfaatnya pun dapat dirasakan oleh masyarakat.

 

 

Daftar Pustaka

Referensi Utama:

Dr. Yayat Suharyat, Drs. M. Sabeni, M.A., Drs H. Agus Khalik, M.Pd.I., Wisnawati Loeis, Lc., M.A., H. Ahmad Kurtubi, Lc. 2017. Karakter Keislaman Kajian Fiqih Islam. Jakarta: Penerbit Saluni

Referensi Tambahan:

Syaikh Kitab Kuning Sulam Taufik

Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. 2007. Ensikopledi Muslim. Jakarta: Penerbit Darul Falah

Syamsul Rijal Hamid. 2005. Buku Pintar Agama Islam. Bogor: Penerbit Cahaya Islam

Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwajiri. 2007. Ensikopledi Islam Al-Kamil. Jakarta: Penerbit Darus Sunnah Press

http://melochaa.blogspot.co.id/2015/06/makalah-jual-beli-bai-murabahah-bai-as_10.html

http://www.sarjanaku.com/2011/04/jual-beli-ilegal-dalam-islam.html

http://www.tuntunanislam.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s