Makalah Pendidikan Agama Islam : “SPIRIT KEPEMIMPINAN”

MAKALAH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SPIRIT KEPEMIMPINAN

 

 Universitas Islam

DISUSUN OLEH:

Dite Nursyamsi Mahmutami        41182003160004

Mia Akmalia                                   41182003160030

 

 

 

PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS

FAKULTAS KOMUNIKASI, SASTRA DAN BAHASA

UNIVERSITAS ISLAM “45” (UNISMA) BEKASI

2016

KATA PENGANTAR

 

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah menimpahkan rahmat, hidayah-Nya kepada kami. Sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada Baginda nabi besar kita Nabi Muhammad saw, semoga kita semua mendapatkan syafaatnya di yaumul kiyamah nanti.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita harus mempunyai pemimpin yang taat akan agama, yang akan membawa rakyat ke jalan yang benar dan mensejahterakan rakyatnya. Yang mempunyai sifat yang baik dan meneladani pemimpin-pemimpin sebelumnya.

Maka dari semua itu kami akan menyimpulkan spirit-spirit kepemimpinan baik dan teladan yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. dan Nabi Muhammad saw. Makalah ini masih mempunyai banyak kekurangan maka dari itu kami harap kritik dan saran untuk menjadi bahan pelajaran bagi kami agar kami menjadi lebih baik lagi. Akhir kata dari kami berharap semoga makalah tentang spirit kepemimpinan ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

 

Bekasi, 8 November 2016

 

Penyusun

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

DAFTAR GAMBAR.. iii

BAB I. 1

PENDAHULUAN.. 1

1.1      Latar Belakang. 1

1.2      Rumusan Masalah. 1

1.3      Tujuan. 2

BAB II. 3

SPIRIT KEPEMIMPINAN.. 3

2.1      Pembaharuan adalah Spirit Haji dan Umrah. 3

2.2      Spirit Kepemimpinan Mekah. 4

2.3      Spirit Kepemimpinan Madinah. 5

2.4      Piagam Madinah dan Pancasila. 6

2.5      Pengkhianat Negara. 11

BAB III. 14

PENUTUP. 14

3.1      Kesimpulan. 14

3.2      Saran. 14

DAFTAR PUSTAKA.. 15

 

DAFTAR GAMBAR

 

Gambar 1 Pemetaan Nilai-nilai Pancasila dalam Piagam Madinah

Gambar 2 Pancasila Yang Berakar dari Nilai Akidah

 

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Dalam kehidupan ini, setiap manusia membutuhkan spirit untuk menjalani hidup dengan optimis. Sebagai umat Islam, kita telah belajar rukun islam yang salah satu isinya yaitu pergi haji bila mampu. Dalam menjalani ibadah haji, salah satu tujuannya yaitu menjadi haji yang mabrur. Oleh-oleh haji mabrur yang di harapkan yaitu perubahan kondisi rohani, terutama menyangkut kepemimpinan diri dalam keluarga.

Kepemimpinan jamaah haji dan umrah sangat penting dalam menghadapi situasi akhir zaman seperti sekarang ini yang sulit diprediksi, atau kerap digambarkan dalam teori kekacauan. Karena dengan adanya spirit kepemimpinan dari para haji mabrur tersebut dapat mengubah diri sendiri, lingkungan hingga bangsanya untuk berubah kearah yang lebih baik sehingga diharapkan para jamaah haji dan umroh diharapkan menjadi pemimpin yang visioner dan mampu menghadapi kekacauan di masa depan, terutama dalam tatanan moralitas bangsa.

  • Rumusan Masalah
  1. Pembaharuan adalah Spirit Haji dan Umrah.
  2. Spirit Kepemimpinan Mekah.
  3. Spirit Kepemimpinan Madinah.
  4. Piagam Madinah dan Pancasila.
  5. Pengkhianat Negara.

 

 

 

  • Tujuan
  1. Untuk mempelajari spirit kepemimpinan yang didapat dari haji dan umrah.
  2. Untuk mempelajari spirit kepemimpinan yang di ambil dari ajaran Mekah dan Madinah.
  3. Untuk mempelajari hubungan antara Piagam Madinah dan Pancasila.

 

BAB II

SPIRIT KEPEMIMPINAN

 

  • Pembaharuan adalah Spirit Haji dan Umrah

Dr. Ruslan Abdulgani menjelaskan bahwa Prof. Sounck Hurgronje ditemui pemerintah Belanda karena pemerintah kolonial terancam kehilangan kekuasaan dan daerah jajahannya. Dalam ceramahnya di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1911 bertajuk “Belanda dan Islam”, Prof. Sounck Hurgronje mengemukakan bahwa pemerintah Belanda harus mempertahankan koloni-koloninya.

Pemerintah Belanda juga harus memberikan kebebasan beribadah kepada umat Islam Indonesia, tidak memberikan ajaran Islam yang berkenaan dengan pemerintah dan politik kepada mereka, dan harus memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk aktivitas dalam urusan sosial saja.

Kaum Muslimin Indonesia melalui ibadah haji memperoleh semangat baru untuk melanjutkan gerakan pembebasan, terutama setelah mereka bertemu dengan sejumlah bangsa Muslim, sementara Mekah sejak abad 16 dan 17 menjadi pusat para pemberontak Muslim yang melarikan diri dari kejaran penjajah.

Jamaah haji ketika itu sangat ditakuti pemerintah Kolonial Belanda, berkat spirit ajaran yang bergelora dalam jiwanya dan selalu tampil dalam gerakan perlawanan terhadap kezaliman kaum penjajah serta para pengkhianat dari kalangan bangsa sendiri (komprador).

Orang yang usai naik haji dapat dianalogikan dengan baterai handphone yang diisi ulang setrumnya (charge). Kalau menerima, maka baterai itu berarti bias digunakan lagi. Namun jika tidak, maka baterai itu tidak bias digunakan lagi. Implementasi ini merupakan tindak lanjut jejak orang tua kita para pendiri NKRI, di mana ulama dan masyarakat dituntut berperan meneruskan jejak perjuangan serta menegakkan moralitas dan ajaran Rasulullah saw. Sedangkan pemimpin yang dapat membangun kejayaan Indonesia ialah yang dapat menjemalkan rahmat Allah di bumi Indonesia.

Allah telah memiliki kriteria yang layak menjadi pemimpin umat, seperti yang dimuat dalam surah Al-Baqarah ayat 247:

Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut memerintah menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan dibandingkan dia, sedangkan dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Albaqarah [2]: 247)

Ayat di atas menjelaskan bahwa pemimpin umat paling sedikit harus memiliki dua syarat utama: (1) sehat jiwa dan juga akidahnya. (2) prima kesehatan fisiknya.

Sejarah menunjukan bahwa Indonesia pernah memilki pemimpin yang layak dibanggakan keberanian dan kegigihannya bertanrung melawan kezaliman para imprialis Barat dan Timur.

 

  • Spirit Kepemimpinan Mekah

Nabi Ibrahim diberikan anugerah sebagai seorang pemimpin yang memiliki prinsip tauhid yang kokoh, gigih berani menghadapi para musuh, dan sikap tegas dalam menghadapi kesesatan termasuk kesesatan bapak sendiri dan kaumnya.

Karakter kepemimpinan ini juga diteruskan oleh keturunannya, yakni Baginda Rasulullah saw., sebagai pemimpin umat sampai akhir zaman. Berkat kepemimpinannya itulah seluruh umat Islam diundang ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji sekaligus untuk mengambil contoh dalam membangun tauhid dan menerapkannya di Negara masing-masing.

Kepemimpinan Mekah tersimpan dalam Ka’bah. Karenanya, temukan atsar-nya dalam Al-Qur’an dan renungkan maknanya agar masuk ke dalam lubuk hati yang paling dalam. Seperti para nabi, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, dan para nabi lainnya mempertahankan prinsip tauhid dan melakukan perubahan bagi bangsanya.

Mereka para tokoh pembaru yang membawa manusia menuju terangnya kehidupan ilahiah. Mereka menjelaskan prinsip tauhid dengan bahasa kaum mereka masing-masing. Begitu juga dengan Nabi Muhammad saw., yang kemudian jejaknya diikuti oleh para Wali Songo. Tujuannya agar mudah dipahami oleh umat dan dijalankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad saw. Keduanya adalah sosok yang telah berjasa menjadikan Mekah sebagai Tanah Haram, yang artinya negeri yang berkedaulat dan terpelihara atsar ketauhidannya.

 

  • Spirit Kepemimpinan Madinah

Diuraikan dalam Lembaran Madinah Al-Munawwarah sebagai uraian yang sempurna dari tesis Nabi Ibrahim. Tesis yang merupakan pancaran ajaran dan akhlak Baginda Rasulullah saw. itu, tersimpan dalam atsar Masjid Nabawi, Maqam Baqi, Maqam Syuhada, Perang Badar dan Perang Uhud. Beliau juga merupakan tokoh sentral Piagam Madinah dan tokoh utama nasionalisme Madinah.

Pada Senin, 20 September 622 M, Nabi Muhammad saw. Berhijrah dari Mekah ke Madinah. Hijrah ini adalah bagian dari strategi yang paling baik dalam menguasai Mekah sebagai episentrum ajaran tauhid, sementara Madinah sebagai episentrum kedua untuk membangun Negara yang beradab. Piagam Madinah salah satu monument yang paling penting sebagai kota yang beradab, yaitu kontrak masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat.

Rasulullah saw. mengimplementasikan ajaran tauhid di Madinah dengan membangun negara Madinah Al-Munawwarah sebagai Darut Tauhid dan Darul Iman. Berkenaan dengan itu, hadist riwayat Ahmad menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang memberikan nama Madinah dengan Yastrib, maka harus beristigfar kepada Allah, sebagai taubatnya.” Hal ini menunjukkan bahwa Madinah identik dengan kota yang beradab atau kota yang berakhlak.

 

  • Piagam Madinah dan Pancasila

Piagam Madinah lahir dari Rahim peradaban islam. Piagam ini diakuin sebagai bentuk perjanjian dan kesepakatan bersama untuk membangun masyarakat Madinah yang plural, adil dan berperadaban. Di mata para sejarawan dan sosiolog barat, Robert N. Bellah, Piagam Madinah yang disusun oleh Rasulullah saw. dinilai sebagai konsitusi termodern di zamannya atau konstitusi pertama didunia. Piagam Madinah yang asli tidak mengenal uraian berdasarkan pasal dan ayat, namun untuk kepentingan analisis ini maka perlu diuraikan.

Berdasarkan klasifikasi ini, Piagam Madinah terdiri dari 45 pasal yang dimulai dengan pendahuluan sampai pasal 45 sebagai penutup yang isinya dapat disarikan dalam berbagai komponen sebagai berikut :

  1. Komponen Nilai-Nilai Dasar

Preambule: Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ini adalah Piagam dari Muhammad Rasulullah saw. bagi kaum mukminin dan muslimin (yang berasal) dari Quraisy dan Yatsrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri, dan berjuang bersma mereka.

Priambul ini dimulai dengan ismuzzat Allah. Di dalamnya terkandung ajaran tauhid, yang diimplementasikan oleh Nabi Muhammad saw. sebagai utusannya. Nilai-nilai ini mengikat komponen bangsa yang berasal dari berbagai suku, baik yang beriman maupun tidak, sehingga bersatu membentuk komunitas bersama.

 

  1. Negara Kebangsaan

Pasal 1 Piagam Madinah menyatakan Madinah adalah negeri persatuan, yang didalamnya ada ikatan persatuan menjadi satu bangsa. Bunyi pasal 1 yang dimaksud adalah :

“sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komunitas) manusia yang lain.

Pasal 2 hingga pasal 10 berisi tentang komponen bangsa yang mengikat diri untuk bersatu. Pasal 2 yang dimaksud berbunyi :

“Kaum Muhajirin (pendatang) dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat diantara mereka dan mereka membayar tebusan tawannan dengan cara yang baik dan adil diantara mukminin.”

 

  1. Norma Hukum dan Jaminan Social

Piagam Madinah memberikan perlindungan dan jaminan atas hak-hak komunitas termasuk menunaikan kewajiaban ekonomi seperti utang-piutang (pasal 11); kewajiban menjaga persatuan tanpa diskriminatif (Pasal 12); kewajiban memnentang kezalian, kejahatan, permusuhan, dan kerusakan secara bersama-sama  (Pasal 13); larangan melakukan pembunuhan kepada siapapun (Pasal 14); jaminan kaum Yahudi aas pertolongan dan santunan (Pasal 15); jaminan atas perdamaian seluruh komponen bangsa (Pasal 16); kewajiban bahu-membahu dalam menghadapi musuh dan membangun pertahanan melalui pembalasan atas serangan musuh (Pasal 17); larangan melindungi musuh (Pasal 19); kewajiban menegakkan hukum secara adil dan larangan melindungi pelannggar piagam perjanjian (Pasal 20).

 

  1. Asas Menyelesaikan Perselisihan

Perselisihan dikembalikan kepada ketentuan Allah dan rasul-Nya sebagaimana dalam pasal 21 dan Pasal 42. Allah pun membenarkan ketentuan ini. Pasal 21 yang dimaksud berbunyi :

“Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, maka penyelesaiannya menurut ketentuan Allah’azza wa jalla dan (keputusan) Muhammad saw.”

 

  1. Muslim dan Yahudi Memiliki Kewajiban Yang Sama

Kaum Yahudi dan kaum Muslimin memiliki kewajiban yang sama, yakni membangun pertahanan dan keamanan dari gangguan dan serangan melawan musuh, seperti yang dinyatakan dalam Pasal 22.

 

  1. Prinsip Pluralitas Agama

Nabi Muhammad saw. adalah sosok pemimpin yang mengedepankan prinsip pluralitas agama. Hal itu ditunjukkannya dengan memberikan ruang gerak kepada agama lain untuk beribadah kepada tuhannya dan menjalankan agama sesuai dengan kepercayaanya, sebagai mana tertuang dalam Pasal 23, sedangkan Pasal 23-32 berisi rincian tentang komunitas Yahudi, selain Bani Auf, yang juga memiiki hak yang sama. Pasal 23 yang dimaksud berbunyi:

“Kaum Yahudi dari Bani ‘Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kamu muslimin agama mereka. Juga kebebasan ini berlaku bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.”

 

 

 

  1. Komando Perang

Jika terjadi peperangan, maka tongkat komando diserahkan kepada pimpinan tertinggi yakni Rasulullah, sebagaimana dalam Pasal 33 yang berbunyi:

“Tidak seorang pun dibenarkan (untuk perang), kecuali Muhammad saw. Ia tidak boleh dihalangi (menuntut pembalasan) luka (yang dibuat orang lain). Siapa yang berbuat jahat (membunuh), maka balasan kejahatan itu menimpa diri dan keluarganya, kecuali ia terainaya. Sesungguhnya Allah sangat membenarkan ketentuan ini.

Kaum Yahudi dan kaum Muslimin memikul tanggung jawab bersama dalam menghadapi para musuh dan pengkhianat. Begitu pula dalam mempertahankan Negara dan menanggung biaya peperangan (Pasal 34 dan 35). Jika terjadi peperangan maka kaum yang terikat perjanjian wajib bahu-membahu menghadapi musuh yang datang mengganggu kedaulatan.

 

  1. Nasionalisme

Kaum yang terikat dalam perjanjian atau Piagam Madinah mendapatkan hak untuk hidup damai dan hak ikatan persatuan dalam wilayah berdaulat bernama Madinah (Pasal 36). Sedangkan penduduk Mekah dan suku Quraisy tidak mendapat jaminan dan perlindungan (Pasal 40).

  1. Asas perdamaian

Negeri Madinah meletakkan pondasi dan prinsip perdamaian bagi seluruh komponen suku dan agama. Tujuannya agar tercipta negeri yang makmur, aman, dan sejahtera. Hal ini dapat diibaratkan dengan komunitas lebah yang bersatu dalam komando ratunya, bekerja sesuai dengan kasta masing-masing, untuk mengolah madu yang sangat berguna bagi manusia. Namun jika ada yang mengganggu, maka tentara lebah tidak segan-segan membunuh para pengganggunya, meskipun harus berhadapan dengan kematian. Pengganggu dan penjahat adalah pengkhianat Piagam Madinah yang layak diperangi.

 

Pasal 42:

“Apabila mereka (pendukung piagam) diajak berdamai dan mereka (pihak lawan) memenuhi perdamaian serta melaksanakan perdamaian itu, maka perdamaian tersebut harus dipatuhi. Jika mereka diajak damai seperti itu, kaum mukminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamaian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksanakan (kewajiban) masing-masing sesuai tugasnya.”

Pasal 43:

“Kaum Yahudi Al-‘Aus, sekutu dan diri mereka memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung piagam ini, dengan perlakuan baik dan penuh dari semua pendukung piagam ini. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu berbeda dari dkejahatan (pengkhianatan). Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah paling membenarkan dan memandang baik isi piagam ini.”

  1. Pencabutan Jaminan

Setiap komponen bangsaa yang terikat dalam piagam ini terus dimonitor (Pasal 44), sehingga siapa saja yang melanggar, berbuat zalim, berkhianat akan dicabut jaminannya sebagaimana yang terkandung dalam pasal 44 dan 45.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jika dipetakan dengan dasar negara Pancasila, ke-45 pasal Piagam Madinah tersebut dapat dilihat dalam gambar dibawah ini :

1

Gambar 1 Pemetaan Nilai-nilai Pancasila dalam Piagam Madinah

Piagam Madinah yang disusun oleh Rasulullah didasarkan pada bimbingan wahyu-Nya. Piagam Madinah yang menjadi dasar konsitusi negara yang berpedoman pada cahaya ajaran. Kemudian pendiri negara kita mengambil spirit Piagam Madinah tersebut sebagai falsafah negara, bernama Pancasila. Dengan demikian, Pancasila jangan diragukan lagi oleh umat islam karena sudah memiliki ilmu hakekat dan bermuara pada ajaran Rasulullah saw.

 

  • Pengkhianat Negara

Musuh utama bangsa Indonesia adalah pengkhianat konsistusi, sebagaimana dalam Piagam Madinah. Penghianat perjanjian Madinah adalah Bani Qurayzha sebagai pembela orang-orang diluar Madinah (Mekah). Sebagai konsekuensinya adalah hukuman mati. Hukuman ini diaksanakan sebagai pelajaran bagi mereka. Musuh utama Indonesia adalah penghianat perjuangan para syuhada dan pendiri Republik, sebagaimana tertuang dalam perjanjian bersama, UUD 1945 dan Pancasila  sebagai replikasi Piagam Madinah.

Pengkhianat adalah setiap komponen bangsa yang mengedepankan sifat-sifat kesetanan dan meminggirkan sifat-sifat Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai wujud tauhid sifatiyah. Jika sifat kesehatan yang muncul maka Negara yang hancur, namun jika sifat ketuhanan yang muncul maka bangsa akan berjaya dan akan tercita kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil dan sejahtera.

Al-Qur’an telah memberikan salah satu rusaknya tata Negara, yaitu negera saba’ yang mengalami krisis ekonomi, krisis ekologis, dan krisis politik. Hal ini disebabkan oleh berpalingnya elemen bangsa dari akar ideologinya, yakni sifat-sifat ketuhanan, dan merajalelanya kehidupan hedonistic dan konsumtif.

Sifat ketuhanan telah diamanatkan oleh dasar Negara Pancasila kepada seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus dijaldikan model  dalam kepemimpinannya sekaligus menjadi role model bagi rakyat dan bangsanya. Inilah esensi ajaran Mekkah dan buah kalimat Thayyibah. Implementasi sifat ketuhanan tercermin dalam ibadah social sebagamana yang diuraikan dalam sila kedua, ketiga, keempat dan kelima.

Pancasila adalah buah akhlak atau hikmah dari sebuah pendakian terhadap konsep Al-Quranul Azhim, Al-Quranul Karim, dan Al-Quranul Hakim. Pendakian itulah yang melahirkan pengarai mulia yang muncul dari keimanan sehinga mendatangkan manfaat bagi semua pihak.

Agama 2

 

Gambar 2 Pancasila Yang Berakar dari Nilai Akidah

Ilustrasi diatas dijelaskan dalam surat Yasin ayat 33-35:

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

Al-Qur’an dengan segala hikmahnya disampaikan dalam bahasa kaummnya agar mudah dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan. Bahasa bayan diterjemahkan menjadi bahasa budaya dan bahasa symbol. Kerangka ini juga dapat kita aplikasikan dalam memahami lambang Burung Garuda dan Bendera Merah-Putih. Bendera Merah-Putih dan Garuda Pancasila  merupakan bahasa bayan untuk menjelaskan sifat Al-‘Aziz  dan Al-Hakim. Lambang dan warna ini semata-mata merupakan bahasa bayan Al-Qur’an yang disampaikan  dengan bahasa bangsanya agar lebih mudah dipahami dan diaplikasikan.

BAB III

PENUTUP

  • Kesimpulan

Dalam haji dan umrah yang mabrur, jamaah medapatkan oleh-oleh berupa perubahan kondisi rohani terutama yang menyangkut kepemimpinan. Jamaah haji dan umrah yang diharapkan menjadi pemimpin yang visioner dan mampu memperbaiki kekacauan dimasa depan, terutama dalam tatanan moralitas bangsa.

Kita sebagai umat muslim wajib mempelajari bagaimana spirit kepemimpinan yang di ajarkan oleh ajaran Mekah (Nabi Ibrahim as) dan ajaran Madinah (Nabi Muhammad saw). Bukan hanya mempelajari, umat muslim juga harus mengimplementasikannya menjadi pemimpin yang mempunyai akhlak yang didasarkan kepada Nabi Ibrahim as dan Nabi Muhammad saw serta menjadi pemimpin memiliki sifat ketuhanan dan menghilangkan sifat kesetanan agar bangsa menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera.

 

  • Saran

Setelah kami menyusun makalah ini, kami mempunyai beberapa saran untuk digunakan dalam spirit kepemimpinan, antara lain:

  1. Perlu adanya critical thinking dalam memilih pemimpin yang bijak dan adil, agar dapat mensejahterakan semua rakyat
  2. Mempunyai keberanian dalam mengkritik pemimpin yang salah dan melenceng dari agama
  3. Jika Anda ingin menjadi seorang pemimpin, jadilah pemimpin yang taat beragama dan tiru sifat kepemimpinan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Muhammad saw.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Syaikh KH.Saadih Al-Batawi dan Dr. Ir. Nandang Najmulmunir, MS. 2014. Umrah, Haji dan Komitmen Pembaharuan Bangsa. Jakarta: Penerbit Saluni

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s